Berparas ayu, manis, kalem dan njawani pasti akan terpikir bagi sebagian orang ketika mendengar nama R.A. Gabriella Imelda Wiseso. Ya! Nama merupakan kekuatan dan harapan tersendiri bagi kebanyakan orang tua di tanah Jawa. Kebetulan saya lahir dari kedua orang tua yang asli Jawa tetapi masih memiliki banyak sekali keturunan jika dilihat dari silsilah keluarga (Turunan Israel-Belanda). Maka dari itu, nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya sangat memiliki arti dan makna, yang mana sampai sekarang selalu saya jadikan gada bagi kehidupan sehari-hari.
Seperti yang telah banyak orang kenal dari saya. R.A. merupakan singkatan dari Raden Ayu. Saya memang masih berdarah biru di Keraton Kasunanan Surakarta-Hadiningrat. Gelar tersebut secara otomatis langsung saya dapat ketika saya dilahirkan di dunia pada 22 Oktober 1992. Gelar yang saya sandang tersebut saya dapatkan dari Ayah saya yang bernama R.M. Yehezkiel Marcellino Wiseso Tito. Akan berbeda ceritanya jika saya lahir dari Ayah yang biasa saja dan Ibu yang seorang ningrat, maka saya tidak mungkin mendapatkan gelar Raden Ayu tersebut. Raden Ayu sendiri sebenarnya merupakan gelar yang diberikan kepada seorang wanita bangsawan yang telah bersuami. Gelar yang seharusnya saya dapat adalah Raden Ajeng tetapi karena terdapat kesalahan saat mengurus akta kelahiran, maka sampai akhir hayat sayapun gelar saya tidak akan berubah. Terkadang saya sangat ingin kembali di zaman ketika gelar yang saya punya masih sangat berpengaruh di kehidupan saya karena sepertinya hidup di tembok keraton dengan segala fasilitas dan pengabdian dari para abdi dalem sangat menggiurkan tetapi dengan nama saya yang saya sandang setidaknya saya menunjukkan pengabdian saya terhadap tanah kelahiran dan keluarga dengan kesuksesan dan pencapaian yang pasti saya raih.
Gabriella merupakan nama baptis yang saya dapat dari baptisan Katolik saat masih bayi. Kedua orang tua saya dahulu adalah keluarga Katholik, tetapi semenjak saya duduk di kelas XI SMA kedua orang tua saya (R.M. Y M Wiseso Tito - Antonia Wiwik W) dan adik saya (R.A. Yosua Ariane Amos Wiseso) telah memiliki keyakinan yang berbeda yaitu Kristen Mormon (Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir). Saya sendiri saat ini masih meyakini agama saya yaitu Katholik, entah mengapa terkadang keinginan untuk berpindah agama untuk bersama-sama keluarga saya terkadang menjadi godaan, tetapi saya mencoba untuk bertahan sampai akhir sebagai seorang Katholik. Gabriella sendiri merupakan malaikat Tuhan yang memberitakan kabar gembira tentang kelahiran Yesus dalam kepercayaan Kristiani. Berkat nama Gabriella itulah saya selalu ingin mewartakan kabar gembira bagi semua orang. Maka jangan ada yang salah sangka jika saya sering tersenyum, menyapa, atau sering terkesan sok dekat. Ya! Karena saya mengimani bahwa saya adalah seorang pewarta gembira.
Nama Imelda tentu tidak asing, nama tersebut diambil oleh Ayah saya karena beliau kagum terhadap si kupu-kupu besi Imelda Marcos. Sedikit terpengaruh oleh si Imelda Marcos saya sangat ingin menjadi seperti beliau, kuat, tegas, tangguh, berkelas, dan seorang wanita pejuang sejati. Sedangkan, Wiseso merupakan nama belakang dari ayah saya yang harus saya pakai sebagai bentuk dari adat Jawa yang patrilinealisme.
Budaya dalam keluarga saya adalah liberal. Ayah saya memang memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk dapat berkembang dengan baik. Saya sendiri menggunakan kebebasan yang diberikan oleh kedua orang tua saya tentu dengan pertanggungjawaban yang tinggi. Kebebasan tersebut terwujud dari Ayah saya yang tidak memaksakan saya untuk berpindah keyakinan walaupun saya tau beliau sangat ingin menggandeng saya. Saya diberi kepercayaan untuk pulang pagi, bahkan tidak pulang ke rumah/dorm ketika saya memang tidak bisa pulang karena tugas. Saya diberi kebebasan memilih masa depan saya walaupun dengan arahan dan pertimbangan dari kedua orang tua saya. Saya boleh berteman dengan siapa saja, dari ras apa saja, suku manapun, dan dari adat yang berbeda sekalipun selama pertemanan saya masih pada jalur aman.
Dalam hal keyakinanpun saya juga dibiasakan untuk selalu ‘kembali kepada leluhur.’ Semenjak saya kecil saya sering sekali berdoa dengan menggunakan tanda salib, memasang ‘kembang setaman’ di sudut-sudut rumah, memasang hio dengan membunyikan lonceng di depan patung Budha, dan melakukan ritual nyadran di makam-makam leluhur. Awalnya bagi seorang anak kecil hal-hal tersebut akan sangat menakutkan karena erat kaitannya dengan hal-hal mistis dan gaib. Akan tetapi, pada akhirnya saya malah bersyukur karena saya boleh mengenal hal-hal tersebut. Pro-kontra sering terjadi karena orang sering menganggap apa yang saya lakukan adalah hal-hal yang dibenci Tuhan atau menduakan Tuhan tetapi saya melakukan hal-hal tersebut karena saya menghormati leluhur.
Budaya saya yang lainnya juga adalah mendaki gunung. Gunung Lawu adalah gunung yang sering saya daki. Semenjak saya kelas 6 SD mendaki Gunung Lawu telah menjadi tradisi bagi keluarga saya setiap Malam 1 Sura. Saya percaya dengan mendaki gunung, saya telah belajar kembali bahwa manusia itu bukan apa-apa, semua sama (orang asing akan menjadi keluarga) dan saat mendaki gunung puncak prihatin dari kehidupan saya selama ini akan diuji coba. Ayah memang yang mengajarkan saya tentang semua ini, beliau sering berkata jika saya ingin sukses dan dimudahkan jalannya maka leluhur juga jangan dilupakan. Entah mengapa saya juga merasa bahwa leluhur saya ada di Gunung Lawu. Gunung Lawu tidak begitu saja saya daki, ada tujuan yang saya cari di sana, ya bisa disebut dengan Kejawen.
Keluarga besar saya boleh jadi merupakan salah satu keluarga yang berpengaruh (The Godfather) di Solo atau Surakarta. Eyang kakung saya R Winarso Sate adalah seorang pahlawan ’45 dan seorang Mantan Anggota DPR, beliau kini telah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Surakarta, beliau pula yang membasmi PKI di Solo. Eyang putri saya R.Ay. Surtiah adalah seorang Jaksa, saya tidak begitu mengenal beliau karena semenjak saya belum lahirpun beliau telah tiada tetapi saya sangat kagum terhadap beliau. Dari keluarga Ibu saya, kakek saya yang bernama Moenarwan adalah seorang Pegawai Negri Sipil di Balaikota Surakarta, sedangkan nenek saya Veronica Moenarwan adalah seorang Juragan Batik. Pengaruh dari keluarga besarpun telah memberikan dampak budaya keluarga besar yang tinggi. Budaya keluarga yang sudah menunjukkan garis keturunan sukses mau tidak mau membuat setiap anak yang lahir dikeluarga besar saya harus setidaknya mempunyai sesuatu yang dibanggakan. Itulah mengapa, ‘menjadi orang’ itu harga mati bagi keluarga kami.
Saya sangat bersyukur dan bangga menjadi seorang yang lahir di Budaya Jawa. Saya sangat senang dengan kesan tua, kolot, dan mistis yang melekat pada kebudayaan saya tersebut. Bahwa sebagai umat beragama saya juga percaya dengan hal-hal mistis, kekuatan alam, dan kekuatan hewan. Saya paling bersyukur karena kebudayaan saya beragam. Semua tertuang dalam pikiran dan budi sebagai seorang anak perempuan, cucu, calon isteri dan Ibu dalam Bedhaya Ku.
![]() |
| Coba tebak 'denayuimeldadeh' yang mana? |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar